Wahai para mujahidin…
Aku
sama sekali tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh kalian dan besarnya senjata
mereka, aku tidak mengkhawatirkan kalian lantaran berkumpulnya seluruh kekuatan
jahat memerangi kalian, atau sikap melemah-kan semangat dari saudara-saudara
kalian sesama muslim di berbagai belahan dunia; yang aku khawatirkan justru
dari diri kalian sendiri, aku khawatir kalian terkena penyakit wahn (cinta
dunia dan takut mati), merasa lemah dan kalah, kemudian banyak melakukan maksiat.
Kalian
bisa mengambil pelajaran dari peristiwa perang Uhud, Alloh Ta‘ala berfirman:
“…sampai
pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan bermaksiat kepada
perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di
antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang
menghendaki akhirat. Kemudian Alloh memalingkan kamu dari mereka untuk menguji
kamu…” ( QS. Ali Imron: 152 )
Ibnu
Katsir berkata, “Tadinya keunggulan dan kemenangan berada di fihak Islam
pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat dan sebagian pasukan
merasa gagal, janji kemenanganpun tertunda, di mana datangnya kemenangan ini
disyaratkan adanya keteguhan dan sikap taat.”
Peristiwa
Uhud ini sungguh telah menorehkan peristiwa yang menakjubkan, antara lain:
jumlah musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin, lalu
Alloh memenangkan kaum muslimin di pagi hari; tapi tatkala mereka bermaksiat,
Alloh timpakan musibah di sore hari.
Shahabat
Jâbir Radhyilallohu ‘Anhu berkata, “Ketika perang Uhud, manusia bercerai berai
dari sisi Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, yang tinggal menyertai beliau
hanya 13 orang Anshor dan Tholhah.”
Dalam
hadits Anas Radhyilallohu ‘Anhu ia berkata, “Ketika pecah perang Uhud, kaum muslimin
tercerai berai. Maka Anas bin Nadhr berkata, ‘Ya Alloh, aku memohon udzur
kepada-Mu dari perbuatan shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri kepada-Mu
dari perbuatan orang-orang musyrik itu.’”
Dulu, setelah pulau Qibrish
ditaklukkan, Abu `d-Darda’ duduk sambil menangis tatkala menyaksikan
penduduknya menangis dan dalam kondisi kacau balau. Maka ada yang bertanya,
“Wahai Abu `d-Darda’, apa yang membuatmu menangis di hari ketika Alloh
memuliakan Islam?” beliau menjawab, “Celakalah kalian, alangkah rendahnya
makhluk di sisi Alloh ketika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal mereka
dulu adalah bangsa yang menang dan kuat, mereka meninggalkan perintah Alloh dan
akhirnya menjadi seperti yang kalian lihat.” ( JIHADIYAH Kontemporer II KUMPULAN NASEHAT PARA ULAMA
UNTUK MUJAHIDIN, Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi )